Kargo Raih Pendanaan Seri A Senilai 504 Miliar Rupiah, Luncurkan Dana Bantuan untuk Mitra Logistik dalam Platform

13/04/2020

Startup Indonesia di bidang ​marketplace logistik, ​Kargo Technologies (Kargo), hari ini mengumumkan bahwa mereka telah mendapatkan pendanaan sebesar USD 31 juta (sekitar 504 miliar rupiah) dari pendanaan Seri A yang dipimpin oleh Tenaya Capital asal Silicon Valley. Grup investor yang juga turut berpartisipasi dalam pendanaan ialah Sequoia India dan Asia Tenggara, Intudo Ventures, Coca-cola Amatil, Agaeti Convergence Ventures, Alter Global, dan Mirae Asset Venture Investment. Di dalam ronde ini, Kargo juga berhasil mendapatkan pendanaan berbasis hutang (​debt financing)​ dari sejumlah bank dan institusi finansial regional terkemuka. 

Babak pendanaan ini ditutup seiring dengan bergabungnya Kargo dalam perjuangan melawan wabah virus Corona (COVID-19) di Nusantara. ​Startup ​ini membiayai gerakan Dana Bantuan Logistik (​Logistics Relief Fund​) dengan menghimbau seluruh karyawan untuk turut serta mengkontribusikan sebagian gaji mereka. Dana Bantuan Logistik akan digunakan untuk ​membantu para pengangkut logistik dan memastikan tidak adanya gangguan dalam pengiriman barang pokok di Indonesia. 

Kargo juga bekerja sama dengan beberapa organisasi amal, seperti Kita Bisa, dan PT Akar Indah Pratama sebagai mitra logistik resmi yang berperan dalam pendistribusian makanan dan alat-alat medis untuk staf medis dan pasien di beberapa rumah sakit di Jakarta (RSPAD Gatot Subroto dan RSPI Sulianti Saroso). Kargo siap membantu semua organisasi yang membutuhkan bantuan mitra logistik, terlebih dalam menghadapi masa krisis ini lewat: https://kargo.tech/covid-response/

Perusahaan ini juga mengambil langkah pencegahan untuk memastikan para pengemudi aman dari penularan virus Corona. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan memastikan seluruh pos pemberhentian (​pit stop​) sepanjang rute perjalanan memiliki persediaan lengkap dan telah disterilisasi secara layak. Kargo juga telah mengimplementasikan sistem EPOD (​Electronic Proof of Delivery​) dalam mekanisme pengiriman guna meminimalisir kontak fisik antar pengguna. Fitur yang dapat ditemukan dalam platform Kargo ini juga memungkinkan mengurangi adanya pertukaran dokumen secara langsung untuk mengurangi risiko infeksi COVID-19. 

“Teknologi Kargo memiliki nilai jual unik di saat efisiensi logistik menjadi sangat penting di Indonesia,” ujar Yodi Aditya, CTO Kargo. “Mulai dari menjaga jumlah stok kebutuhan retail dengan kontak fisik seminimal mungkin atau memperlancar transaksi ​e-commerce di seluruh penjuru negeri, kami percaya bahwa Kargo mampu menyelesaikan masalah ini.” 

“Kami telah bergerak untuk menjawab panggilan ini dan akan mengerahkan semua tenaga yang kami miliki untuk melawan COVID-19 di Indonesia,” jelas Tiger Fang selaku CEO dari Kargo. “Kami bersyukur atas investor kami yang tetap memberikan dukungan luar biasa di tengah masa ketidakpastian finansial. Kargo berjanji akan menjadi mitra logistik yang paling dapat diandalkan untuk memastikan tidak adanya gangguan dalam rantai pasokan barang pokok di Indonesia. Perusahaan kami telah mendonasikan sebagian dari gaji kami untuk masalah ini dan kami juga turut mengundang bisnis dan organisasi lokal lainnya untuk menghubungi kami agar kita bisa menyelesaikan masalah ini bersama-sama.” 

Pendanaan ini tiba sekitar setahun setelah Kargo menerima pendanaan awal sebesar USD 7,6 juta (sekitar 123 miliar rupiah) yang dipimpin oleh Sequoia India dan Asia Tenggara. Pendanaan tersebut tercatat sebagai salah satu pendanaan awal terbesar di Asia Tenggara pada masa itu dan melibatkan beberapa investor teknologi global terkemuka. Beberapa investor lain yang terlibat di ronde awal tersebut ialah; 10100 Fundmilik​co-founder U​ber Travis Kalanick, Zhen fund asal Tiongkok, Intudo Ventures, ATM Capital, Innoven Capital, dan Agaeti Ventures yang dipimpin oleh pengusaha Indonesia Pandu Sjahrir. Patrick Walujo selaku ​co-founder dari Northstar Group, dan Diono Nurjadin selaku CEO Cardig International juga turut melakukan investasi pribadi pada Kargo. 

Kargo dapat digambarkan sebagai ‘Uber di bidang logistik Indonesia’. Hal ini seiring dengan target tim yang ingin memindahkan transaksi logistik di dalam negeri dari ​offline ke ​online sebagai jawaban dari inefisiensi yang dihadapi pengirim dan mitra transportasi barang lokal saat ini. 

Startup ini didirikan oleh dua pengusaha yang ahli dalam bidang logistik dan teknologi. Diantara 2013 dan 2018, Tiger membawahi ekspansi internasional Uber sebagai General Manager di wilayah Tiongkok Barat dan kemudian di Indonesia. Ia juga memegang posisi penting di Rocket Internet, Lazada Group, serta Bank of America Merrill Lynch. 

Sedangkan Yodi selaku CTO dari Kargo sebelumnya bekerja di bidang penerbangan, piranti lunak korporasi (​enterprise software)​, dan teknologi berbasis pembayaran digital (​digital payment)​ . 

Efisiensi dalam ranah logistik lokal terhalang dengan banyaknya hambatan geografis, kurangnya infrastruktur utama di pedesaan dan daerah terpencil, serta beberapa kebiasaan kolot para perantara yang menaikkan harga untuk pembeli akhir. 

Dikarenakan isu-isu di atas, banyak bisnis lokal (terutama di industri ​e-commerce​) yang umumnya menyebutkan logistik sebagai salah satu kendala terberat dalam menjalankan bisnis di Indonesia. Hal ini sekaligus menjadi bukti besarnya potensi pasar untuk perusahaan inovatif yang ingin menyelesaikan masalah dengan teknologi baru. 

Managing Director dari Accenture, Mohammed Sirajuddeen, baru-baru ini mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi ​quantum commerce yang terintegrasi penuh jika mampu memperkuat empat elemen utama: ​marketplace online​, platform media sosial, platform pembayaran elektronik, dan jaringan logistik. Sejauh ini, elemen jaringan logistik masih kurang bertumbuh cepat di Indonesia. 

Dengan tantangan yang semakin nyata, Kargo hadir di saat yang tepat dengan keahlian kelas dunia dari tim pendirinya. Tim ini berasal dari perusahaan teknologi raksasa seperti Uber, Amazon, Facebook, dan perusahaan logistik terkemuka seperti DHL dan APL. 

Dengan memberdayakan teknologi untuk menghubungkan pengirim dan mitra transportasi, meningkatkan efisiensi rantai pasokan, membangun transparansi, serta meningkatkan kualitas pelayanan untuk pengguna akhir merupakan bagian dari misi utama Kargo. Perusahaan ini telah mengumpulkan lebih dari 6.000 pengirim barang aktif (​active shippers)​ dan memiliki jaringan lebih dari 50.000 truk di seluruh penjuru negeri.